Sentani, Tajukpapua.Com – Untuk memaksimalkan Pemberantasan buta huruf di Papua, Direktur Yayasan Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia (YBUPBHI), Bertus Asso, minta pemerintah daerah mendatangkan tanaga pengajar dari luar Papua, tanpa harus mengirimkan siswa keluar Papua. Cara ini bisa menghemat biaya dan memberikan peluang terhadap putra daerah yang berkompeten dalam bidangnya, serta memahami karakter daerahnya.
Hal ini disampaikan Bertus Asso kepada media ini, menyusul besarnya beban daerah dalam mengalokasikan biaya pendidikan, apalagi jika uang yang digelontorkan disalahgunakan oleh oknum tertentu.
Dikatakan selama ini paradigma pemerintah pemerintah selalu menganggap jika mengirim siswa untuk belajar diluar akan lebih baik, tetapi kenyataannya tidak demikian pola didik yang akan dilakukan adalah mengadopsi budaya luar masuk ke Papua yang tidak sesuai dengan karakter masyarakat setempat
“anak-anak kita punya potensi besar untuk menjadi pengajar yang hebat, tanpa harus mengeluarkan biaya besar, yang terpentingkan mendatangkan pengajar yang memang ahli dibidangnya.”ujar Bertus
Ia mencontohkan pada zaman dulu para misionaris yang datang ke tanah Papua tidak hanya mengajarkan soal agama kristen tetapi memiliki peran penting dalam pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat. Para misionaris mendirikan sekolah-sekolah dan mengajarkan baca tulis yang secara signifikan meningkatkan tingkat melek huruf di Papua. Tanpa harus membawa keluar anak Papua untuk belajar.
“Para misionaris tidak membawa keluar anak Papua saat itu untuk dididik tetapi mereka mendidiknya satu atau dua orang di Papua, sehingga menjadi tenaga pendidik yang handal pada zamannya,” ungkap Bertus
Seperti dua misionaris Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler yang mendarat di Papua tanggal 5 Februari 1855, dikenal memiliki peran penting dalam penyebaran agama kristen dan pendidikan di Papua.
Sebagai Direktur Yayasan Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia (YBUPBHI), Bertus menyadari betapa pentingnya pendidikan dengan pendekatan kearifan lokal khususnya wilayah Papua Pegunungan. Untuk itu pengajar harus mengetahui karakter daerah setempat sehingga mudah di pahami.
Dalam pemberantasan buta huruf, kata wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Pegunungan ini pihaknya telah menyiapkan kader terbaik yang telah dididiknya terkhusus dalam metode mengajar huruf Bung Karno (a,I,u,e,o)
“ Saya sebagai putra Papua Pegunungan telah menyiapkan kader-kader (tenga pendidik) yang handal untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru dengan menggunakan metode mengajar huruf Bung Karno.” Ungkap Bertus.(redaksi)



















