Jayapura (TP), – Sekolah Dasar (SD) YPPK Kristus Raja Dok V menggelar kegiatan Student Led Conference (SLC) selama empat hari, Senin-Kamis (24-27 Maret).
Kegiatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan berbicara dan mempresentasikan hasil proyek mereka di depan orang tua, guru, dan teman-teman sekelas.
Hal ini terpantau saat tiga orang staf Kantor Sekretariat Eksekuti YPPK Fransiskus Asisi Kota Kabupaten melakukan kunjungan kerja ke SD YPPK Kristus Raja Dok V untuk meninjau Kegiatan Student Led Conference (SLC) yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, Rabu 26/03/2025.
Di salah satu ruang kelas, terlihat seorang siswa kelas II, berdiri di depan pintu masuk kelas untuk menyambut kedua orangtuanya. “Selamat datang, Bapak dan Mama. Inilah kelas saya. Silahkan masuk” pinta Rendy, si peranakan Serui-Ambon itu.
“Silahkan Bapak dan Mama, duduk di meja ke-1 untuk melihat hasil kerja saya. Portofolio ini ada yang saya kerjakan sendiri, tapi ada juga yang dikerjakan bersama teman-teman. Kalau gambar-gambar ini, kami kerja kelompok,” jelas si kecil itu lagi.
Kedua orangtuanya memperhatikan dengan seksama penjelasan putra mereka itu. Lalu, dia mengajak lagi kedua orangtuanya: “Silahkan Bapak-Mama duduk di meja ke-2. Saya mau mempresentasikan hasil belajar saya” ajak Rendy.
Lalu, kedua orangtuanya menuju meja ke-2. Rendy tampil ke depan. Tepat di hadapan kedua orangtua, dia mulai menjelaskan materi Matematika tentang “Rumus Bangun Datar”. Tak sedikitpun rasa gugup. Si kecil sangat lihai menjelaskannya tanpa membaca keterangan yang dibuat di setiap rumus itu.
Kedua orangtuanya terkesima melihat itu. Kami pun sontak terdiam, tertegun menyaksikan seorang bocah berusia 7/8 tahun itu, sudah mampu berbicara di depan kelas, dengan gaya bahasa yang sederhana, enak dan elegan.
“Sekian dulu penjelasan saya. Sekarang Bapak dan Mama bisa menuju ke Meja 3, untuk mengisi lembaran refleksi dan saran. Jika ada koreksi, bisa diisi pada lembaran itu,” ungkap Rendy sambil menunjuk lembaran kertas di atas meja ke-3 itu. Dia pun duduk di depan kedua orangtuanya sambil memerhatikan lembaran refleksi itu diisi sang ibu, begitu pula dengan sang ayah.
Setelah lembaran refleksi selesai diisi. Lantas dia mengajak kedua orangtuanya untuk bertemu Wali Kelas di meja ke-4.
“Bapak Mama, di meja sana itu, Wali Kelas saya. Bapak Mama bisa mendengar sejumlah penjelasan dari Wali Kelas terkait perkembangan belajar saya selama ini,” ajaknya penuh akrab.
Rendy bersama kedua orangtuanya menghadap Wali Kelas di meja ke-4. Di sana, Wali Kelas coba bertanya terkait suasana hati yang dialami si Rendy.
“Apa yang kamu rasakan, Rendy?”
“Sebenarnya saya agak gugup, Ibu. Tapi saya senang sekali, karena Bapak dan Mama hari ini (Rabu, 26/03, pen) bisa hadir di sekolah saya, menyaksikan langsung presentasi saya. Bagaimana saya belajar di sini, dan nilai-nilai belajar saya,” jelasnya.
Wali Kelas melanjutkan dengan sedikit penjelasan tambahan terkait prospek pembelajaran yang dialami Rendy selama ini di SD YPPK Kristus Raja Dok V.
“Sebagai orangtua, sangat luar biasa ya. Lihat anak seperti begini, punya kemajuan cara belajarnya, cara presentasinya luar biasa, mungkin perlu ditingkatkan lagi proses belajar anak-anak. Pokoknya SD Kristus Raja ini bagus. Saya memilih sekolah ini untuk sekolahkan anak saya” pinta Gladis Tetaleta Ramandey, ibu si Rendy.
Senada dengan itu, Ibu Novita Hamadi juga mengungkapkan kekagumannya ketika menyaksikan sendiri putrinya, Riana Morisia Safari mempresentasikan materinya.
“Dengan adanya program ini, saya sebagai orangtua merasa bangga…,” Ibu terdiam sejenak. Rasa haru menyelimuti suasana batinnya.
“Selama ini anak-anak di rumah, ataupun di sekolah, dia tidak mampu bertanya, mungkin karena malu atau sibuk main. Namun adanya program ini, mereka lebih mampu dan berani tampilkan apa yang mereka pelajari. Saya berharap program ini terus dilakukan supaya kita tidak ketinggalan dengan sekolah berkembang lainnya. Juga, pelajaran yang belum sempat dilakukan, kiranya dapat dilanjutkan,” katanya melanjutkan.
Di sela-sela kegiatan SLC itu, Ketua Panitia Ancelmus Narang ketika ditemui Media ini mengungkapkan alasan SLC ini dilakukan.
Menurutnya SLC ini lahir dari banyaknya persoalan yang dihadapi sebagai Wali Kelas di kelas 4A. Pertama, misalnya, anak-anak kurang berani ketika menyelesaikan tugasnya untuk presentasi di depan kelas. Kedua, keterlibatan orang tua terhadap pembelajaran itu sendiri sangat kurang. Ketiga, menghadapi perubahan zaman yang terus berkembang, anak-anak perlu dibina, dilatih dan disiapkan dengan baik. Mereka perlu memiliki sejumlah ketrampilan dasar seperti berpikir kritis, kreatif dan kolaboratif.
“Kami berharap dengan adanya program ini, anak-anak bisa berani tampil di depan kelas, dan juga orang tua dalam proses pembelajaran itu sendiri bisa terlibat aktif. Maka, sangat pentinglah program ini untuk juga melatih kemampuan dasar anak seperti keberanian, kerjasama, kolaborasi, dan kreatif, yang berguna bagi kehidupannya di masa depan,” terang Narang, sang penggagas Program SLC itu.
Adanya program pembelajaran ini, Stefanus Konstansius Thomas selalu Kepala SD YPPK Kristus Raja Dok V mengungkapkan rasa bangga kepada kedua gurunya: Anselmus Narang dan Ibu Vany atas inisiatif mereka dalam menggagaskan program SLC ini. Menurutnya program pembelajaran ini, berdampak positif bagi kemajuan sekolah dan sangat bagus, karena melatih bukan hanya kemampuan siswa untuk berani tampil di depan kelas, berkolaborasi dengan teman-teman sebaya, saling menghargai satu dengan yang lain, tetapi juga para guru sebagai pemimpin pembelajaran.
“Adanya program ini dengan sendirinya menuntut para guru untuk belajar lebih keras, berkolaborasi, kreatif dan inovatif serta mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Guru menjadi teladan dan contoh pembelajar yang baik untuk peserta didik,” jelas Kepsek.
Menyadari bahwa program ini baru pertama kali diselenggarakan di SD YPPK Kristus Raja Dok V, maka Kepala Sekolah berserta dewan guru, dan komite sekolah saling bekerja sama dalam menyukseskan kegiatan SLC ini. Bahkan Komite Sekolah menghadirkan Media TVRI untuk meliput kegiatan yang baik itu.
“Kegiatan ini sudah berlangsung selama 3 hari (Senin-Rabu). Karena jumlah siswa sebanyak 539 orang, maka kegiatan ini dibagi dalam 4 hari, dengan urutan: Senin-Selasa untuk siswa kelas IV-VI; Rabu-Kamis untuk siswa kelas I-III. Besok (Kamis, 27/03pen) hari terakhir. Kami berharap dengan adanya masukan dan evaluasi dari orangtua siswa, juga dukungan dari Yayasan, ke depan sekolah kami akan berkembang lebih baik lagi. Kalau kami sukses melaksanakan SLC ini, mungkin baik juga jika nanti kami bisa melakukan pengimbasan di sekolah-sekolah YPPK Fransiskus Asisi yang lain,” ungkap Kepsek mengakhiri. (Demmy Namsa)



















