SENTANI, Tajuk Papua.com – Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPC PDIP) Kabupaten Jayapura telah melaksanakan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter “Pesta Babi” di halaman kantor DPC PDIP, jalan Komba, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu ( 23/5/2026).
Sama seperti nobar film Pesta Babi ditempat lainnya, antusias masyarakat sangat luar biasa untuk menyaksikan isi keseluruhan dari film dokumenter yang banyak menjelaskan soal peningkatan ketahanan pangan dan bio energi melalui Program Strategi Nasional (PSN), yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat di sejumlah daerah di Papua Selatan.
Pemutaran film berlangsung pada pukul 19.00 WIT atau jam 7 malam setelah arahan Ketua DPC PDIP Kabupaten Jayapura Hein Hermes Ohee yang dalam arahannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat di wilayah Kampung Komba dan sekitarnya yang telah hadir untuk menyaksikan pemutaran film dokumenter pesta babi
“Film dokumenter ini banyak menampilkan informasih soal kerusakan lingkungan, tetapi juga pembukaan hutan serta perampasan hak ulayat masyarakat adat di selatan papua,” ujar Hein Ohee dalam arahannya.
Durasi film dokumenter ini kurang lebih satu jam tigapuluh enam menit, sementara pemutaran film berjalan, jumlah penonton terus bertambah, sehingga film dokumenter ini di putar dua kali bagi masyarakat yang datang saat pertengahan pemutaran film atau yang baru datang.
Nobar film Pesta Babi ini berjalan aman dan terkendali hingga pukul 22.30 WIT karena panitia turut menyediakan kopi, teh, kopi susu serta rebusan ubi, petatas, singkong, yang sangat dinikmati sambil menonton oleh masyarakat.
Usai pemutaran film, Hein Ohee mengatakan bahwa PSN yang dilaksanakan oleh Pemerintah di Papua Selatan ini sangat ekstrim dan berdampak negatif bagi ruang hidup masyarakat di wilayah tersebut.
Hein juga mempertanyakan luas lahan yang akan dibongkar dan sedang berjalan mencapai jutaan hektar, bagaimana dengan makhluk hidup yang hidup diatas dan dan didalamnya. Tidak hanya manusia tetapi juga flora dan fauna serta habitat endemik yang sudah hidup puluhan tahun lamanya
“Isi dari film ini juga menjelaskan bagaimana masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat tidak dilibatkan, bahkan kesanya ada perampasan hak oleh pemerintah melalui pihak perusahaan,” ujarnya
Menurut Ohee, dokumeter pesta babi ini menghadirkan data serta fakta yang valid, dari masa lalu hingga saat ini. Jaringan pelaku dalam perencanaan program baik itu Pemerintah maupun pihak-pihak swasta yang dilibatkan juga tergambar jelas didalamnya, sementara masyarakat kita hanya terhipnotis dengan kalimat pembangunan sawit, tebuh,padi dan lapangan pekerjaan.
“Pembongkaran lahan dalam skala besar seperti itu sudah jelas berdampak negatif bagi hak hidup masyarakat, ini belum PSN yang kecil-kecil sedang berjalan di seluruh papua,” ungkapnya
Dia juga menyinggung soal pernyataan sejumlah tokoh adat di Kabupaten Jayapura yang beberapa hari lalu menyatakan sikap bahwa film pesta babi tidak berimbang. Menurutnya, ada penggiringan isu oleh pihak tertentu yang memanfaatkan para tokoh adat untuk menyatakan hal tersebut.
“Yang tidak berimbang itu dimana dari bagian film ini, fakta dan data sangat detail sudah menjelaskan seluruhnya,” jelas Hein Ohee
Dia berharap agar dari pemutaran film dokumenter ini atau nobar yang telah diikuti dapat memberikan informasi serta pengetahuan yang baik bagi masyarakat, secara khusus masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat tidak mudah untuk menjual tanah untuk kepentingan yang nantinya berdampak negatif bagi banyak orang.
“Film dokumenter ini sangat detail sekali menyebutkan siapa pelakunya dan siapa yang terdampak,” pungkasnya. (*)


















