JAYAPURA, Tajuk Papua.Com, — Di bawah langit mendung Kotaraja, ribuan orang Kei datang bukan sekadar menghadiri perayaan iman. Mereka datang membawa ingatan tentang leluhur, bahasa ibu, adat Larvul Ngabal, dan kerinduan untuk tetap menjadi satu keluarga: Katolik, Protestan, dan Muslim, di tanah rantau yang mempersatukan.
Langit pagi di Kota Jayapura tampak muram, Senin, 25 Mei 2026. Sedikit hiasan awan tebal menggantung di atas Gereja Katolik Paroki Kristus Juru Selamat Kotaraja. Namun, cuaca yang mendung tidak mampu meredupkan semangat ribuan orang Kei/Evav yang sejak pagi telah memadati halaman gereja dengan pakaian adat terbaik mereka.
Dari halaman SMK Negeri II Jayapura, iring-iringan panjang mulai bergerak menuju gereja. Di bagian depan, tarian perang dengan busur dan panah dari Paguyuban Keluarga Waur El-Bulil Tanah Tabi tampil gagah, menghentakkan kaki-kaki kecil generasi muda Kei yang menari dengan penuh kebanggaan. Di belakang mereka, pemudi-pemudi Waur memainkan tarian kipas dengan gerakan lembut yang menghadirkan suasana teduh dan anggun.
Namun perhatian banyak orang tertuju pada sebuah desain unik yang bergerak perlahan di tengah arak-arakan: sebuah replika Kapal Motor Pelita.
Di dalam “kapal” itulah berdiri Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Ino Ngutra, bersama para pembina, ketua panitia, ketua-ketua paguyuban kampung, dan tamu undangan. Kapal itu bukan sekadar ornamen budaya. Ia adalah simbol kenangan yang sangat personal.
KM Pelita dirancang khusus untuk mengenang ayahanda Mgr. Ino Ngutra yang dahulu menjadi nakhoda kapal tersebut di jalur Tual–Elat, Maluku Tenggara, saat sang uskup masih kecil dan bersekolah. Di tengah gegap gempita Pentakosta Nuasa Kei/Evav, terselip kisah tentang seorang anak kampung yang tumbuh dari ombak dan peluh seorang ayah pelaut, dan kini kembali mempersatukan bangsanya lewat iman dan budaya.
Sesampainya di depan gereja, anak-anak penari yang membawa replika kapal perlahan duduk. Uskup dan para tamu kemudian turun dan memasuki gereja. Lonceng kecil berdentang. Perayaan Pentakosta Nuasa Kei/Evav Tahun 2026 pun dimulai.
Mengenang Orang Tua-Tua Kei yang Membangun Papua
Dalam homilinya, Mgr. Ino mengangkat kembali pesan mendalam dari Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, tentang sejarah panjang kehadiran masyarakat Kei dan Tanimbar di Papua sejak tahun 1950-an dan 1960-an.
Saat itu, Papua belum berkembang seperti sekarang. Banyak wilayah masih tertutup hutan lebat. Kehidupan masyarakat asli Papua pun masih sangat sederhana.
“Orang tua-tua kamulah yang membawa kami dari hutan masuk ke kota,” tutur Mgr. Ino, mengulang kembali pesan Uskup Jayapura kepada masyarakat Kei.
Mereka datang bukan sebagai penakluk, melainkan pelayan. Mereka menjadi guru, tenaga kesehatan, pegawai, pelaut, tukang, katekis, dan pelayan umat. Mereka mengajar membaca, berhitung, berbahasa Indonesia, dan mendampingi masyarakat dengan ketulusan yang nyaris tanpa pamrih.
Papua mengenang mereka bukan karena kekayaan mereka, tetapi karena pengabdian mereka.
Namun di tengah nostalgia itu, terselip pula kegelisahan.
Uskup Jayapura mempertanyakan apakah semangat pengabdian generasi awal Kei itu masih sungguh hidup dalam generasi sekarang. Dahulu, para leluhur melayani tanpa menghitung untung dan rugi. Mereka datang membawa hati.
Kini, ketika zaman berubah dan kehidupan semakin pragmatis, warisan ketulusan itu terasa mulai memudar.
Kegelisahan itu tampak ketika Mgr. Ino menyinggung sedikitnya anak-anak Kei/Evav di Papua yang memilih jalan hidup sebagai pelayan Tuhan.
“Puluhan tahun orang Kei ada di Papua, tetapi anak-anak mereka yang menjadi pastor di sini hanya hitung satu dua,” ujarnya.
Ia lalu berseloroh hangat agar keluarga-keluarga Kei jangan terlalu takut memiliki banyak anak, sebab mungkin saja dari anak-anak itu akan lahir pastor, pendeta, ustaz, atau tokoh agama yang kelak melayani Papua.
Umat tersenyum simpul. Tetapi di balik senyuman itu, tersimpan pesan yang sangat dalam: sebuah bangsa hanya akan tetap hidup apabila generasinya masih mau melayani.
Perayaan hari ini, bukan saja tentang Pentakosta nuansa Kei Evav. Namun sesungguhnya yang dirayakan adalah persaudaraan.
Dalam wawancara seusai perayaan, Mgr. Ino Ngutra berbicara tenang, tetapi penuh daya sentuh. Ia menegaskan bahwa kekuatan terbesar masyarakat Kei bukan pertama-tama terletak pada kesamaan agama, melainkan pada kesadaran adat dan persaudaraan yang diwariskan leluhur melalui falsafah Ain ni Ain — bahwa semua orang Kei adalah saudara.
“Walaupun katong datang dari agama yang berbeda-beda, tetapi katong tetap disatukan oleh adat-istiadat Larvul Ngabal,” ungkapnya.
Di tanah rantau seperti Papua, falsafah itu menjadi semakin penting. Perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan jembatan untuk saling merangkul. Karena itu, Pentakosta Nuasa Kei tidak lagi menjadi milik umat Katolik semata. Ia telah berubah menjadi rumah budaya bersama bagi orang Kei Katolik, Protestan, dan Muslim.
“Kalau sudah rasa bersatu, lalu katong bersatu untuk melakukan kebaikan di tanah rantau seperti ini, maka buktikanlah bahwa apa yang leluhur buat di Kei, itu yang katong bawa datang ke sini,” kata Uskup Ino.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh identitas, orang Kei di Papua justru sedang menunjukkan bahwa iman dan budaya tidak perlu dipertentangkan. Di bawah falsafah Ain ni Ain, semua orang dipanggil untuk duduk bersama sebagai keluarga.
Pentakosta yang Dijaga Bersama Tiga Agama
Ketua Panitia Pentakosta Nuasa Kei/Evav Tahun 2026, Esau Renmaur, mengatakan bahwa semangat persatuan lintas iman dalam kegiatan ini tumbuh secara alami.
Awalnya, Pentakosta Nuasa Kei hanya dibentuk oleh para penggagas sebagai ruang kecil bagi orang Kei Katolik untuk mempertahankan identitas budaya dan bahasa mereka di tanah rantau. Tetapi perjalanan waktu justru membuat acara ini dicintai semua orang Kei.
Kini, Katolik, Protestan, dan Muslim berdiri bersama sebagai satu panitia.
“Tahun ini banyak orang Islam juga ada dalam panitia. Saya sendiri Protestan. Pembina juga Protestan. Anggotanya Katolik, Protestan, dan Muslim,” pinta Ketua mewakili panitia pentakosta dari paguyuban Holat-Har, Mun-Ad, dan Lar Baba itu.
Bahkan di tengah kesulitan ekonomi dan sulitnya mencari dana kegiatan, masyarakat tetap bergerak bersama.
Proposal mungkin tidak lagi terlalu berarti di meja-meja pemerintah. Bantuan donatur pun tidak semudah dulu. Tetapi semangat orang Kei ternyata tidak bergantung pada kemewahan.
“Kami cari uang dengan berbagai macam cara, dari kita untuk kita,” ujar Esau.
Yang mengharukan, masyarakat membantu bukan karena diminta secara formal, tetapi karena rasa memiliki. Ketika panitia datang dan berbicara dalam Bahasa Kei, banyak orang spontan memberi dukungan sekadar “seribu dua ribu” sebagai bentuk cinta kepada budaya dan persaudaraan mereka.
Di situlah Ain ni Ain menemukan bentuknya yang paling nyata: saling menopang, walau sederhana.
Menjaga Bahasa, Menjaga Identitas
Bagi Esau Renmaur, tantangan terbesar orang Kei di Papua hari ini bukan lagi sekadar ekonomi, melainkan hilangnya identitas generasi muda.
Banyak anak Kei lahir dan tumbuh di tanah rantau. Banyak pula yang berasal dari keluarga campuran. Tidak sedikit yang mulai kehilangan kemampuan berbahasa Kei atau bahkan tidak pernah pulang ke kampung leluhur.
Karena itu, Pentakosta Nuasa Kei bukan hanya acara rohani atau budaya. Ia adalah sekolah identitas. Melalui tarian, bahasa, nyanyian, dan keterlibatan anak-anak muda, orang Kei sedang berusaha memastikan bahwa generasi berikutnya tetap mengenal akar mereka.
“Paling tidak ada satu dua bahasa yang mereka tahu, sebab itu menunjukkan identitas mereka sebagai orang Kei,” kata Esau, bapak asal desa Mun itu.
Di tengah dunia modern yang terus menyeragamkan manusia, menjaga bahasa ibu ternyata adalah cara paling sederhana untuk menjaga jiwa sebuah bangsa.
Jangan Membawa Perpecahan ke Tanah Rantau
Pesan paling kuat dari seluruh perayaan hari itu mungkin justru datang dalam bentuk ajakan sederhana.
Esau berharap orang Kei di Papua tidak membawa konflik dari kampung halaman ke tanah rantau. Ia mengingatkan bahwa hidup di Papua berarti hidup di atas tanah milik orang lain yang harus dihormati.
“Kita harus menghargai orang yang punya tanah dan menghargai tanah ini,” katanya, mengulang pesan Uskup Ino.
Karena itu, persatuan tidak boleh berhenti di altar gereja atau panggung perayaan. Persatuan harus hidup dalam keseharian: saling mengunjungi, saling menyapa, dan saling menjaga.
Hari ini halaman gereja paroki Kristus Juru Selamat Kotaraja berubah menjadi lautan sukacita. Musik tradisional dan lagu-lagu daerah mengalun silih berganti. Orang-orang berjoget bersama tanpa memandang agama. Tawa pecah di mana-mana. Anak-anak berlarian. Para orang tua saling menyapa dan berpelukan. Tidak ada sekat.
Meski disadari masih banyak kekurangan yang perlu menjadi perhatian serius panitia, agar semua paguyuban kampung tetap merasa terlibat dan tidak kecewa.
Di situlah Pentakosta menemukan maknanya yang paling hidup. Bukan hanya tentang turunnya Roh Kudus di ruang doa, tetapi tentang hadirnya kasih persaudaraan dalam kehidupan nyata.
Perayaan ini juga dihadiri oleh Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, Ketua DPR Provinsi Papua, Sekda Provinsi Papua, dan berbagai tamu undangan lainnya. Namun di atas semua jabatan dan atribut, hari ini semua orang larut dalam satu identitas yang sama:
Orang Kei.Orang basudara.
Ain ni Ain. (Demmy Namsa).



















