JAYAPURA ,TAJUKPAPUA.COM– Sebuah pesan harapan mengalir kuat dari Ruang Pertemuan SMP YPPK St. Paulus Abepura, Kamis-Jumat (25–26 Juni 2026). Selama dua hari, sekitar 40 guru TK dan PAUD di bawah naungan YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura mengikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pendampingan Siswa Berkebutuhan Khusus dengan tema “Mewujudkan Pendidikan Anak Usia Dini yang Inklusif, Ramah, dan Berkualitas bagi Semua Anak.” Pelatihan ini bukan sekadar meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga menyampaikan pesan yang menenangkan hati para orang tua: anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah beban, melainkan anak-anak istimewa yang berhak memperoleh pendidikan bermutu, diterima dengan kasih, dan didampingi oleh guru-guru yang semakin siap melayani mereka.
Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga pendidikan YPPK Fransiskus Asisi tidak ingin meninggalkan satu pun anak. Di tengah semakin besarnya kebutuhan akan pendidikan inklusif di Papua, YPPK FA Kota/Kabupaten Jayapura kini memilih bergerak lebih dahulu dengan membekali para guru agar mampu mendampingi setiap anak sesuai kebutuhan dan potensinya.
Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Dr. Eni Kusrini, S.Pd., M.Pd., yang membuka kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah YPPK Fransiskus Asisi.
Menurutnya, sepanjang tahun ajaran baru ini, pelatihan pendidikan inklusif yang diselenggarakan YPPK merupakan salah satu kegiatan pertama yang secara khusus mempersiapkan guru-guru PAUD dan TK untuk menerima serta mendampingi anak berkebutuhan khusus.
“Ini suatu upaya yang luar biasa. YPPK mengadakan pelatihan pendidikan inklusif untuk menyambut tahun ajaran baru. Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada YPPK karena terus bergerak maju.”
Namun, menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak cukup hanya melalui sebuah pelatihan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh guru benar-benar diterapkan di sekolah dan terus dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan.
Ia berharap YPPK tidak berhenti sampai di sini, tetapi memiliki rencana tindak lanjut (RTL) yang jelas sehingga sekolah-sekolah yang telah menerima anak berkebutuhan khusus memperoleh pendampingan secara terus-menerus.
“Bila sekolah mengalami keterbatasan atau membutuhkan dukungan pemerintah, Dinas Pendidikan Kota Jayapura selalu terbuka untuk bekerja sama,” ujarnya.
Dr. Eni menegaskan bahwa sekalipun sekolah-sekolah tersebut berada di bawah naungan YPPK, seluruh satuan pendidikan tetap merupakan bagian dari sistem pendidikan Kota Jayapura sehingga pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendukung keberhasilan pendidikan inklusif.
Direktur Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura, Ferdinando Lase, S.Kom, menjelaskan bahwa pendidikan inklusif bukanlah program sesaat.
Menurut dia, tahun 2026 merupakan tahun ketiga YPPK secara konsisten membangun kompetensi guru dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Hasil dialog bersama para peserta pelatihan menunjukkan kenyataan yang cukup menggugah.
Dari enam TK dan PAUD YPPK yang hadir, hampir seluruhnya telah menerima sedikitnya satu anak berkebutuhan khusus. Bahkan di TK Kuntum Mekar jumlahnya lebih dari satu anak.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan lagi wacana, tetapi sudah menjadi kenyataan di sekolah-sekolah kita,” ungkap Ferdinando.
Karena itu, menurutnya, guru tidak cukup hanya memiliki niat baik. Mereka juga membutuhkan pengetahuan, keterampilan, serta strategi pembelajaran yang tepat agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Ia mengakui bahwa mendampingi anak berkebutuhan khusus bukan pekerjaan yang mudah. Namun YPPK memilih untuk bertumbuh secara bertahap melalui pelatihan yang berkelanjutan.
“Kami berharap guru-guru memiliki kompetensi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Memang tidak mudah, tetapi perlahan-lahan kemampuan itu akan terus dibangun hingga mereka benar-benar siap mendampingi anak-anak istimewa di sekolah-sekolah YPPK.”
Pria berdarah Nias-Kei itu juga mengungkapkan bahwa program pendidikan inklusif yang telah dijalankan YPPK ternyata selaras dengan arah pastoral Sinode Keuskupan Jayapura, yang secara khusus memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas.
“Awalnya kami tidak merancang program ini karena Sinode. Namun ketika hasil Sinode keluar, ternyata semangatnya sama. Artinya, langkah YPPK sudah sejalan dengan arah Gereja, dan sekarang kami tinggal memperkuat kompetensi guru agar pelayanan itu semakin baik.”
“Anak Berkebutuhan Khusus adalah Anak-Anak Istimewa”
Salah satu narasumber utama pelatihan, Sr. Avlina, ALMA, menyampaikan cara pandang yang mengubah perspektif banyak peserta.
Menurut Suster Avlina, komunitas ALMA tidak lagi menggunakan istilah “anak berkebutuhan khusus” semata, tetapi lebih memilih menyebut mereka sebagai Anak-Anak Istimewa.
Istilah itu lahir dari keyakinan bahwa setiap anak adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat yang sama dan layak menerima kasih, perhatian, serta pendidikan terbaik.
Ia mengapresiasi keberanian YPPK membuka pintu bagi anak-anak istimewa di tingkat PAUD dan TK.
“Bagi kami ini luar biasa. Guru-guru usia dini adalah peletak dasar kehidupan anak. Karena itu kami sangat mengapresiasi YPPK yang mau menerima anak-anak istimewa di sekolah-sekolahnya.”
Selama dua hari pelatihan, para guru dibekali materi yang sangat praktis, mulai dari konsep dasar pendidikan inklusif hingga karakteristik berbagai kebutuhan khusus yang paling banyak ditemukan di sekolah, seperti anak dengan hambatan intelektual (tunagrahita), Down syndrome, tunaganda, serta autisme.
Menurut Sr. Avlina, materi tersebut dipilih karena jenis kebutuhan itulah yang paling banyak dijumpai di lingkungan PAUD dan TK YPPK.
Ia berharap bekal tersebut mampu mengurangi kesulitan yang selama ini dialami guru ketika mendampingi anak-anak istimewa.
“Dengan pelatihan ini, guru-guru tidak lagi merasa berjalan sendiri. Mereka memiliki bekal yang membuat mereka semakin percaya diri untuk menjangkau lebih banyak anak-anak istimewa.”
Pesan Menyentuh untuk Para Orang Tua
Satu pesan yang sungguh menyentuh adalah ketika Sr. Avlina menyampaikan pesannya kepada para orang tua.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak-anak istimewa tidak mungkin hanya ditentukan oleh sekolah.
Justru kunci utamanya adalah kerja sama yang erat antara guru dan orang tua.
Ia mengingatkan bahwa sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga. Karena itu, pendidikan akan berkembang jauh lebih optimal apabila sekolah dan rumah memiliki cara pandang yang sama.
Dengan penuh keyakinan ia berkata,
“Tuhan tidak pernah keliru menitipkan anak-anak istimewa kepada orang tua yang keliru. Tuhan justru mempersiapkan orang tua yang istimewa untuk mendampingi anak-anak yang istimewa.”
Kalimat sederhana itu sungguh mengundang haru banyak peserta. Pasalnya, dalam sesi tanya jawab, sebagian guru mengakui jujur bahwa ada orang tua yang diam-diam malu, atau minder untuk memasukkan anaknya di SLB (Sekolah Luar Biasa) yang sudah ada.
Karena itu, pesan Suster Avlina ini menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.
“Semangat untuk semua orang tua yang memiliki anak-anak istimewa. Mereka bukan sendiri. Sekolah siap berjalan bersama.”
Dua Puluh Tahun Mengabdi Bersama Anak-Anak Istimewa
Sr. Avlina sendiri bukan sosok baru dalam pelayanan kepada penyandang disabilitas.
Religius asal Lembata, Nusa Tenggara Timur—yang dikenal sebagai daerah “Ikan Paus”—ini telah lebih dari dua puluh tahun menjadi anggota Kongregasi ALMA dan selama sekitar 24 tahun hidup bersama anak-anak istimewa.
Bagi Kongregasi ALMA, anak-anak disabilitas bukan sekadar penerima pelayanan.
“Mereka adalah tuan dan majikan kami,” ungkapnya.
Semangat itulah yang menjadi dasar pelayanan Yayasan Bakti Luhur dan karya-karya ALMA di berbagai daerah di Indonesia.
ALMA Hadir di Jayapura untuk Melayani Bersama Gereja
Sementara itu, Sr. Willy, ALMA, menjelaskan bahwa kehadiran Komunitas ALMA di Jayapura merupakan jawaban atas panggilan Gereja Keuskupan Jayapura.
Menurutnya, komunitas ALMA diundang langsung oleh Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius You, sebagai tindak lanjut dari hasil Sinode Keuskupan yang menegaskan keberpihakan Gereja kepada penyandang disabilitas.
Selama ini, pelayanan pendidikan formal telah berkembang dengan baik melalui YPPK. Namun pelayanan bagi anak-anak disabilitas dinilai masih membutuhkan perhatian yang lebih besar.
Karena itulah ALMA hadir untuk melengkapi pelayanan tersebut.
“Kami hadir untuk bekerja sama dengan orang tua agar perkembangan anak-anak menjadi semakin optimal.”
Saat ini Komunitas ALMA tinggal di Dok V Atas, Jalan Sabang-Merauke Nomor 28, Kelurahan Trikora, Kota Jayapura.
Sr. Willy membuka pintu selebar-lebarnya bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus berusia di bawah 10 tahun.
“Bapak dan Ibu tidak perlu merasa sendiri. Jika membutuhkan pendampingan atau sekadar ingin berkonsultasi mengenai perkembangan anak, silakan datang kepada kami. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa kami bantu.”
Ia menambahkan bahwa penugasan ALMA di Keuskupan Jayapura berlangsung selama tiga tahun dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan pelayanan.
Sekalipun para suster nantinya berganti tugas, pelayanan kepada anak-anak istimewa dipastikan akan terus berlanjut karena akan selalu ada suster-suster pengganti yang melanjutkan karya tersebut.
Pendidikan yang Memeluk Semua Anak
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini, pada akhirnya dengan tegas dikatakan bukan sekadar kegiatan peningkatan kapasitas guru.
Tapi lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pernyataan bersama bahwa setiap anak, tanpa kecuali, memiliki hak yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan dicintai.
Melalui komitmen YPPK Fransiskus Asisi, dukungan Pemerintah Kota Jayapura, arah pastoral Keuskupan Jayapura, serta kehadiran para Suster ALMA yang telah puluhan tahun mengabdikan hidup bagi anak-anak istimewa, harapan baru mulai tumbuh bagi keluarga-keluarga yang selama ini merasa sendiri.
Kini, pesan itu disampaikan dengan sangat jelas kepada seluruh orang tua di Papua:
Jangan takut menyekolahkan anak-anak istimewa. Mereka diterima, dihargai, didampingi, dan dicintai. Karena setiap anak adalah anugerah Tuhan yang memiliki masa depan yang layak diperjuangkan bersama. (Demmy Namsa)



















