Oleh Prof. Raymond Fatubun
Para sesepuh yang terhormat, para pemimpin masyarakat yang saya hormati, rekan-rekan akademisi, dan saudara-saudara orang Kei yang tercinta,
Dengan penuh kehormatan dan emosi yang mendalam, saya berdiri di hadapan Anda hari ini untuk berbicara tentang tiga karya luar biasa yang merupakan pencapaian monumental bagi suku dan bahasa kita.
TONGGAK BERSEJARAH
Selama bergenerasi, bahasa Kei—Evav—telah hidup di hati kita, dalam nyanyian kita, dalam Siksikar Agam kita, dan dalam percakapan sehari-hari masyarakat kita di seluruh Kepulauan Kei dan sekitarnya dan bahkan di berbagai tempat lain. Namun, hingga kini, kita belum memiliki karya referensi yang komprehensif yang benar-benar menangkap kekayaan dan kedalaman bahasa ibu kita. Hari ini, kita merayakan puncak dari kerja keras bertahun-tahun: tiga buku pertama dari jenisnya, yang dibuat khusus untuk dan tentang bahasa kita.
Kamus Bahasa Indonesia–Bahasa Kei dan volume pendampingnya, Kamus Bahasa Kei–Bahasa Indonesia, bersama-sama membentuk jembatan lengkap antara bahasa leluhur kita dan bahasa nasional. Ini bukan sekadar daftar kata; ini adalah dokumen hidup yang merekam bagaimana kita berbicara, bagaimana kita berpikir, dan bagaimana kita mengekspresikan identitas kita.
Buku ketiga, Mas’il Mas’al—kumpulan peribahasa dan kata-kata bijak— mungkin adalah harta yang paling berharga dari semuanya. Karena dalam peribahasa kita terkandung kearifan terdestilasi dari leluhur kita, nilai-nilai yang telah membimbing kehidupan kita selama berabad-abad, dan kompas moral yang terus menunjuk kita pada apa yang baik, benar, dan luhur.
APA YANG MEMBUAT BUKU-BUKU INI LUAR BIASA
Izinkan saya menyoroti apa yang membuat karya-karya ini begitu istimewa:
Pertama, buku-buku ini komprehensif. Kamus-kamus ini mendokumentasikan ribuan kata dengan perhatian cermat terhadap pelafalan, ejaan, dan penggunaan.
Buku-buku ini merekam tidak hanya ragam baku yang digunakan di Langgur dan sekitarnya tetapi juga mengakui variasi dialektal indah yang ada di seluruh Kei Kecil dan Kei Besar—dari pantai utara hingga selatan, dari pantai timur hingga barat. Seperti yang diingatkan oleh kata pengantar penyusun, “hampir semua masyarakat Kei dapat saling memahami variasi bahasanya sehingga mereka masih tetap menganggap diri satu.”
Kedua, buku-buku ini ilmiah. Para penyusun dengan cermat memperhatikan bunyi-bunyi khas bahasa kita—vokal panjang dan glotal yang memberikan Evav karakteristiknya yang khas. Mereka mengusulkan sistem ejaan yang membuat bahasa kita dapat diakses oleh para pembelajar sambil tetap mempertahankan pelafalan aslinya. Ini adalah hadiah luar biasa bagi anak-anak dan cucu-cucu kita yang ingin mempelajari bahasa leluhur mereka.
Ketiga, buku-buku ini berakar pada budaya. Kamus-kamus ini melampaui terjemahan. Kamus-kamus ini menangkap cara hidup kita—adat kita, kebiasaan kita, hubungan kita dengan laut dan darat, peralatan dan tradisi kita. Setiap kata menceritakan sebuah kisah tentang siapa kita.
Keempat, buku peribahasa (Mas’il Mas’al) adalah peti harta kearifan. Dalam peribahasa kita, kita menemukan tuntunan untuk hidup: bagaimana memperlakukan satu sama lain, bagaimana menyelesaikan konflik, bagaimana menghormati orang tua, bagaimana membesarkan anak-anak, dan bagaimana berjalan di jalan kebajikan. Ini adalah warisan kita yang diwariskan secara turun-temurun, kini dilestarikan dalam bentuk tulisan untuk selamanya.
SERUAN UNTUK MERANGKUL WARISAN KITA
Para penyusun karya-karya ini—Christ Fautngil, Christoforus Renwarin, Anton Maturbongs, dan tim mereka yang berdedikasi—telah memberi kita hadiah yang tak ternilai. Tetapi kamus atau buku peribahasa hanya seberharga penggunaannya. Kita, orang Kei, harus merangkul karya-karya ini. Kita harus menempatkannya di sekolah-sekolah kita, di rumah-rumah kita, di perpustakaan kita. Kita harus mengajar anak-anak kita untuk membacanya, mencintainya, dan merasa bangga akan hal itu.
Sebagaimana dinyatakan dengan bijak dalam kata pengantar: “Bahasa adalah salah satu identitas etnis. Bagi mereka yang kehilangan bahasa, cepat atau lambat, pasti kehilangan identitas.”
Hari ini, kita tegaskan bahwa identitas kita kuat. Buku-buku ini adalah bukti bahwa veve Evav hidup, bahwa veve Evav penting, dan bahwa veve Evav akan bertahan.
Buku-buku ini bergabung dengan laporan penelitian dan tesis atau skripsi yang telah ada sebelumnya, tetapi buku-buku berdiri terpisah sebagai karya terbitan pertama dari jenisnya—dapat diakses, praktis, dan sangat bermakna bagi setiap orang Kei.
UCAPAN TERIMA KASIH DAN HARAPAN
Kepada para penyusun, atas nama orang Kei yang lain saya haturkan rasa terima kasih dan hormat kami yang sedalam-dalamnya. Anda telah bekerja keras melewati berbagai tantangan, menavigasi kesibukan, dan mendedikasikan banyak waktu Anda untuk mewujudkan karya-karya ini. Anda melakukan ini bukan untuk kemuliaan pribadi tetapi karena cinta pada bahasa dan bangsa kita.
Kepada para sesepuh dan pemimpin adat yang hadir: terima kasih telah melestarikan tradisi, kata-kata, dan kearifan yang memungkinkan buku-buku ini terwujud.
Pengetahuan Anda adalah fondasi di mana karya-karya ini dibangun. Kepada generasi muda: buku-buku ini untuk kalian. Belajarlah darinya, rawatlah, dan wariskanlah. Biarkan veve Evav kita terus diucapkan, dinyanyikan, dan dirayakan sampai bergenerasi-generasi mendatang.
KESIMPULAN
Hari ini, kita tidak sekadar meluncurkan buku. Kita menegaskan bahwa orang Kei adalah bangsa yang berbahasa, berhikmat, dan bermartabat. Kita menyatakan bahwa suara leluhur kita akan terus terdengar. Kita memastikan bahwa anak-cucu kita akan tahu siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Ketiga buku ini bukanlah akhir dari perjalanan kita dalam pelestarian Bahasa, dan sastra—ini adalah awal yang sangat mulia. Mari kita gunakan, rayakan, dan banggakan.
Veve Evav envait, Veve Evav naak envait sluruk—bahasa Kei hidup, bahasa Kei akan bertahan.
Terima kasih, dan Tuhan memberkati kita semua.
Jayapura, 30 Juli, 2026


















