JAYAPURA, TAJUK PAPUA.COM – Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menanti lahirnya sebuah karya yang menjaga identitas suatu bangsa. Sejak digagas pada 2010, Kamus Bahasa Indonesia–Bahasa Kei dan Kamus Bahasa Kei–Bahasa Indonesia berulang kali gagal diluncurkan di tanah kelahirannya akibat minimnya dukungan. Namun, semangat para penyusunnya tidak pernah padam. Dari tanah rantau di Jayapura Papua, karya itu akhirnya resmi diluncurkan dalam bentuk digital pada Jumat (31/7/2026), menjadi penanda sejarah baru sekaligus bukti bahwa kecintaan terhadap bahasa ibu mampu mengalahkan panjangnya penantian.
Kegiatan peluncuran Kamus Digital/E-Book yang dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Papua, itu disponsori oleh Ikatan Keluarga Maturan/Maturbongs dan Larnasvaak Jayapura. Ikut hadir dalam kegiatan itu, Asisten III Bidang Administrasi Umum, Setda Kota Jayapura Frederik Awarawi, SH., M.Hum., mewakili Wali Kota Jayapura, sekaligus membuka acara, para akademisi, Ketua IKK Kei Provinsi Papua, tokoh masyarakat, para ketua paguyuban Kei, serta keluarga besar Maturan/Maturbongs dan Larnasvaak.
Anton Maturbongs, salah satu penyusun kamus sekaligus editor buku Misil-Masal, Liat-Dalil, Sukat-Sarang Evav, karya PH. Renyaan, masih mengingat betul bagaimana cita-cita besar itu pernah ingin diwujudkan pertama kali di Kepulauan Kei.
“Tahun 2010 itu kami menyusun Kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Kei dan diterbitkan pada tahun 2012 oleh Lembaga Riset Papua (LRP). Lembaga ini bentukan pemerintah Provinsi Papua pada jaman pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu. Ide awal itu sebenarnya dibuat untuk nanti dilaunching di Kei tahun 2012. Tapi pemerintah di sana tidak terlalu menyambut baik, akhirnya kami membatalkan itu, padahal sudah dicetak cukup banyak eksemplarnya. ” kenang, pria yang juga peneliti di LRP itu.
Harapan kembali tumbuh pada tahun 2014. Tim penyusun kembali mendatangi Pemerintah Maluku Tenggara dengan gagasan menggelar seminar kebudayaan Melanesia sekaligus meluncurkan kamus tersebut. Lagi-lagi usaha itu belum membuahkan hasil.
Banyak orang mungkin akan berhenti sampai di situ. Namun bagi Anton dan rekan-rekannya, menyerah bukanlah pilihan.
Mereka justru melanjutkan pekerjaan besar itu dengan menyusun Kamus Bahasa Kei–Bahasa Indonesia. Sayangnya, keterbatasan sponsor membuat naskah tersebut kembali tersimpan bertahun-tahun.
Waktu terus berjalan. Dunia berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Di tengah perubahan itu, Anton menyadari bahwa kamus cetak yang tebal mungkin tidak lagi menjadi pilihan generasi muda. Dari situlah muncul gagasan baru: mendigitalisasi seluruh karya agar dapat diakses melalui telepon genggam.
“Kami ingin setiap orang Kei bisa membawa bahasanya ke mana pun ia pergi. Cukup melalui telepon genggam, mereka sudah bisa belajar kembali bahasa leluhurnya,” ujarnya.
Bagi Anton, digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Ini adalah strategi penyelamatan bahasa.
Bahasa, katanya, akan tetap hidup apabila digunakan. Sebaliknya, bahasa akan perlahan hilang apabila ditinggalkan oleh penuturnya.
Terlebih bagi ribuan orang Kei yang lahir dan besar di tanah rantau seperti Papua. Banyak di antara mereka mulai kehilangan kemampuan berbahasa daerah akibat lingkungan yang berbeda.
Karena itulah dua kamus tersebut disusun secara berpasangan —Bahasa Indonesia–Bahasa Kei dan Bahasa Kei–Bahasa Indonesia— agar dapat dipelajari oleh siapa saja, termasuk generasi muda yang sudah tidak lagi fasih berbahasa Kei.
Peluncuran itu juga menjadi penghormatan bagi para tokoh yang telah lebih dahulu meletakkan dasar perjuangan pelestarian bahasa Kei.
Nama-nama seperti almarhum Dr. Christ Fautngil, MA, almarhum Dr. Don A.L. Flassy, MA, dan almarhum Pastor Izak Resubun, MSC, bersama Kristoforus Renwarin dan Anton Maturbongs menjadi bagian penting dari perjalanan panjang tersebut.
Mereka bukan sekadar penyusun kamus. Mereka adalah penjaga ingatan kolektif sebuah bangsa kecil yang tidak ingin kehilangan identitasnya.
Pastor Izak bahkan pernah menggagas penyusunan Kamus Bahasa Kei–Belanda. Gagasan itu belum sempat diwujudkan karena beliau lebih dahulu berpulang.
“Kami mendedikasikan peluncuran ini kepada para penyusun yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdian mereka,” kata pria yang sehari-harinya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Papua itu.
Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Maturan/Maturbongs dan Larnasvaak Jayapura, Dr. Laurentius H. Maturbongs, SP., SH., M.Sc., menegaskan bahwa paguyuban yang dipimpinnya hanyalah penggerak agar karya besar tersebut tidak terus tersimpan. Menurutnya, masyarakat Kei membutuhkan kamus yang dapat dijadikan rujukan resmi.
“Selama ini banyak orang mencari arti kata-kata dalam bahasa Kei melalui internet atau Google. Namun kita tidak pernah tahu apakah itu benar atau tidak. Sekarang kita memiliki kamus yang lahir melalui penelitian ilmiah sehingga menjadi rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan,” pinta Laurentius, yang juga adalah Ketua IKK Kei Kabupaten Jayapura itu.
Ia berharap kamus digital ini tidak hanya dimanfaatkan masyarakat Kei di Papua, tetapi juga menjadi sumber belajar bagi masyarakat di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.
Selain dua kamus, buku Misil-Masal yang memuat falsafah hidup masyarakat Kei juga dinilai memiliki makna yang sangat penting.
Menurutnya, buku tersebut merupakan pedoman nilai kehidupan yang perlu diwariskan kepada generasi muda agar mereka tidak tercerabut dari akar budayanya.
Lebih lanjut, Ketua IKK Kei Provinsi Papua, Dr. Najaruddin Toatubun, MM., bahkan menyebut hari peluncuran itu sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Kei.
“Orang Kei di mana pun berada akan lebih mudah menyatakan dirinya sebagai orang Kei apabila mampu berbahasa Kei,” katanya.
Bagi Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay Jayapura itu, kamus ini bukan sekadar buku. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi tua dengan generasi muda, menghubungkan kampung halaman dengan tanah rantau, sekaligus menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Karena itu, menurutnya, kamus tersebut tidak cukup hanya disimpan atau dijadikan koleksi.
Kamus harus digunakan. Harus diajarkan kepada anak-anak. Harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kei di mana pun berada.
Ia juga memberikan apresiasi kepada keluarga besar Maturan/Maturbongs dan Larnasvaak Jayapura yang telah menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus menunggu program pemerintah. Inisiatif masyarakat, katanya, mampu melahirkan sejarah.
Peluncuran kamus digital ini sesungguhnya membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar penerbitan sebuah buku. Ia menjadi pengingat bahwa bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi.
Bahasa adalah identitas.
Bahasa adalah rumah.
Bahasa adalah warisan yang menghubungkan generasi hari ini dengan leluhur mereka. Ketika bahasa hilang, sebagian identitas sebuah bangsa ikut menghilang.
Karena itu, sudah sepatutnya Pemerintah Daerah, Dewan Adat, para tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat memberikan dukungan nyata terhadap upaya-upaya pelestarian bahasa dan budaya masing-masing daerah, seperti yang dilakukan para penyusun Kamus Bahasa Kei-Bahasa Indonesia, dan Kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Kei ini.
Enam belas tahun adalah waktu yang terlalu panjang untuk menunggu sebuah karya budaya memperoleh panggung yang layak. Semoga penantian panjang itu menjadi yang terakhir.
Sebab sebuah peradaban tidak akan dikenang karena banyaknya gedung yang dibangun, tetapi karena kesungguhannya menjaga bahasa, budaya, dan jati diri bangsanya. Dan, dari Jayapura, sejarah itu kini telah dimulai, khusus bagi masyarakat Kei. (Demmy Namsa)


















